Rabu, 07 Agustus 2013

REFLEKSI


Merenung. Mungkin kata yang tepat untuk mewakili kondisiku. Banyak kondisi yang berkecamuk di benak ini. Merenungkan setiap kata-kata yang dijejalkan di telinga ini. Semoga tidak sebatas racikan telinga, tetapi meresap ke hati dan menjelma menjadi tindakan-tindakan yang berdampak.

Pertemuan yang berawal dari ramah-tamah seorang senior. Saya tidak tahu, apakah ini telah terencana jauh-jauh hari atau hanya sekadar iseng-iseng sehingga terjelmalah kondisi yang akrab dengan teman-teman seperantauan kemarin di rumah senior. Yah, biasa. Anak perantau itu akan menjadi sangat-sangat akrab ketika jauh dari tanah kelahiran masing-masing. Namun, bukan pertemuan itu yang saya renungkan, melainkan setiap gagasan-gagasan yang berurai dari bibir-bibir diskusi semalam.

Banyak hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Hal itu kini mulai menjuntai-juntai di benak. Satu kata yang menjadi kunci pembicaraan semalam "eksploitasi". Aku terperangah ketika seorang teman melontarkan kata itu. Melontarkan kata itu untuk mempertanyakan keberadaan ini. Mempertanyakan alasan saya datang ke tanah perantauan ini. Akibat yang saya timbulkan dari keegoisan saya.

Fenomena merantau ke daerah seberang adalah hal yang lumrah. Hal yang sangat lumrah ketika generasi-generasi muda menginjakkan kaki di tanah orang untuk mengecap pendidikan di negeri orang. Namun, yang tidak lumrah adalah ketika satu pertanyaan menilik hati ini. "Untuk apa kamu datang ke Bandung ini?" Dengan gampangnya kumenjawab, "Untuk mengecap pendidikan dan mencari pengalaman yang lain." Seutas senyum sungging menjadi respon dari pernyataan saya. "Apakah kamu tidak sadar kalau kamu telah melakukan eksploitasi di kota Bandung ini?" Timpalan pertanyaan ini mengejutkanku. Menggubris adrenalinku hingga mataku terbelalak.

Saya mencoba melihat realita. Ya. Itulah yang menjadi jawaban tepat yang terlintas di benak saya. Saya yakin, hampir setiap orang akan mengutarakan hal yang sama seperti jawaban saya. Sebab, pada dasarnya orang-orang menyeberangkan kaki ke negeri orang lain tidak lain untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik dari daerah asalnya. Pada dasarnya, semuanya akan berpusat kepada dirinya sendiri tanpa pernah berpikir dampak keberadaannya selama mengecap pendidikan di daerah orang. Paling tepatnya, kebanyakan orang tidak pernah berpikir akan hal baik apa yang dapat dilakukannya. Jejak apa yang harus ditinggalkan.

Namun, jawabanku itu ternyata terlalu picik. Tidak terpikirkan bahwa keberadaan saya di daerah perantauan ini telah mengakibatkan eksploitasi besar-besaran. Eksploitasi adalah pemanfaatan untuk keuntungan sendiri, pengisapan, dan pemerasan (KBBI). Mengapa demikian? Teman-teman yang berkecipung dalam diskusi semalam mengutarakan alasannya. "Sebab, kamu akan mengecap pendidikan di kota Bandung ini, memperoleh pekerjaan, diberi kesempatan untuk menyewa kamar kos, mempergunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, mempergunakan angkutan kota secara bebas, memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memperluas wawasan, melihat perkembangan fashion yang berbeda di daerah asalmu, dan masih banyak lagi yang akan kamu peroleh selama di sini. Sungguh banyak yang kamu peroleh bukan? Lalu, kami ingin bertanya balik. Hal apa yang dapat kamu lakukan untuk kota ini?" sahut seseorang. Wah, aku semakin kelimpungan memikirkan pertanyaan itu.

Oh, ternyata, saya tak ubahnya seperti seekor lintah pengisap, rentenir yang suka memeras, dan orang egois yang tidak memiliki sedikit pun sisi kemanusiaan. Ketika saya datang hanya untuk mencari dan menemukan semua yang berpusat pada diri saya sendiri itu berarti saya adalah orang egois yang tidak layak dinyatakan orang berpendidikan. Saya tidak pernah berpikir, hal apa yang bisa saya lakukan untuk kemaslahatan kota ini, khususnya lingkungan sekitar saya, selama saya mengecap pendidikan di kota ini. Banyak orang yang tidak mengecap dunia pendidikan, tetapi berdampak. Mampu memberikan perubahan bagi lingkungannya bahkan negara ini.

Aku pun merangkai-rangkai pertanyaan. Apakah gunanya memiliki jenjang pendidikan yang tinggi, tetapi tidak memiliki manfaat, tidak memiliki kepekaan akan kondisi sekitar, dan tidak berpikir sedikit pun untuk negara ini.  Merenungkan pembicaraan semalam, mengotak-atik pikiranku. Apakah aku hanya sebagai pengikut selama ini? Tidak pernah berpikir dan bertindak untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkunganku pada khususnya dan bagi negara ini pada umumnya.

Menimang-nimang pembicaraan semalam meneteskan setitik pertanyaan di benak ini. Apakah saya dapat berdampak dan meninggalkan artefak sisi kemanusian yang humanis? Saya tidak memikirkan besar-kecilnya, tetapi saya hanya berpikir hal apa yang dapat saya lakukan.

Keraguan mulai membidik ketika semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya kecap, tetapi saya tidak berdamapak dan tidak pernah melakukan sesuatu yang berfaedah untuk negara ini. Apakah selamanya saya hanya akan mengeksploitasi?

Ini hanya refleksi dari pertemuan semalam. Pertemuan yang mengajak saya untuk merenungkan keberadaan saya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Negara ini sedang dalam krisis generasi yang mampu memberikan perubahan dan sumbangsih positif bagi tumbuh kembangnya peradaban globalisasi. Negara ini sedang kehausan generasi-generasi yang memiliki jiwa humanis. Semoga saya tidak hanya merenungkan, tetapi menelurkan tindakan. Semoga!***


Kamar Vera, Bandung, 6 Agustus 2013
Pukul 21.33 WIB












Tidak ada komentar:

Posting Komentar