Merenung. Mungkin kata yang tepat untuk mewakili kondisiku. Banyak kondisi yang berkecamuk di benak ini. Merenungkan setiap kata-kata yang dijejalkan di telinga ini. Semoga tidak sebatas racikan telinga, tetapi meresap ke hati dan menjelma menjadi tindakan-tindakan yang berdampak.
Pertemuan yang
berawal dari ramah-tamah seorang senior. Saya tidak tahu, apakah ini telah
terencana jauh-jauh hari atau hanya sekadar iseng-iseng sehingga terjelmalah
kondisi yang akrab dengan teman-teman seperantauan kemarin di rumah senior.
Yah, biasa. Anak perantau itu akan menjadi sangat-sangat akrab ketika jauh dari
tanah kelahiran masing-masing. Namun, bukan pertemuan itu yang saya renungkan,
melainkan setiap gagasan-gagasan yang berurai dari bibir-bibir diskusi semalam.
Banyak hal-hal
yang tidak terpikirkan sebelumnya. Hal itu kini mulai menjuntai-juntai di
benak. Satu kata yang menjadi kunci pembicaraan semalam
"eksploitasi". Aku terperangah ketika seorang teman melontarkan kata
itu. Melontarkan kata itu untuk mempertanyakan keberadaan ini. Mempertanyakan
alasan saya datang ke tanah perantauan ini. Akibat yang saya timbulkan dari
keegoisan saya.
Fenomena
merantau ke daerah seberang adalah hal yang lumrah. Hal yang sangat lumrah
ketika generasi-generasi muda menginjakkan kaki di tanah orang untuk mengecap
pendidikan di negeri orang. Namun, yang tidak lumrah adalah ketika satu
pertanyaan menilik hati ini. "Untuk apa kamu datang ke Bandung ini?"
Dengan gampangnya kumenjawab, "Untuk mengecap pendidikan dan mencari
pengalaman yang lain." Seutas senyum sungging menjadi respon dari
pernyataan saya. "Apakah kamu tidak sadar kalau kamu telah melakukan
eksploitasi di kota Bandung ini?" Timpalan pertanyaan ini mengejutkanku.
Menggubris adrenalinku hingga mataku terbelalak.
Saya mencoba
melihat realita. Ya. Itulah yang menjadi jawaban tepat yang terlintas di benak
saya. Saya yakin, hampir setiap orang akan mengutarakan hal yang sama seperti
jawaban saya. Sebab, pada dasarnya orang-orang menyeberangkan kaki ke negeri
orang lain tidak lain untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik dari daerah
asalnya. Pada dasarnya, semuanya akan berpusat kepada dirinya sendiri tanpa
pernah berpikir dampak keberadaannya selama mengecap pendidikan di daerah
orang. Paling tepatnya, kebanyakan orang tidak pernah berpikir akan hal baik
apa yang dapat dilakukannya. Jejak apa yang harus ditinggalkan.
Namun, jawabanku
itu ternyata terlalu picik. Tidak terpikirkan bahwa keberadaan saya di daerah
perantauan ini telah mengakibatkan eksploitasi besar-besaran. Eksploitasi
adalah pemanfaatan untuk keuntungan sendiri, pengisapan, dan pemerasan (KBBI).
Mengapa demikian? Teman-teman yang berkecipung dalam diskusi semalam
mengutarakan alasannya. "Sebab, kamu akan mengecap pendidikan di kota
Bandung ini, memperoleh pekerjaan, diberi kesempatan untuk menyewa kamar kos,
mempergunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, mempergunakan angkutan kota
secara bebas, memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memperluas wawasan,
melihat perkembangan fashion yang
berbeda di daerah asalmu, dan masih banyak lagi yang akan kamu peroleh selama
di sini. Sungguh banyak yang kamu peroleh bukan? Lalu, kami ingin bertanya
balik. Hal apa yang dapat kamu lakukan untuk kota ini?" sahut seseorang.
Wah, aku semakin kelimpungan memikirkan pertanyaan itu.
Oh, ternyata,
saya tak ubahnya seperti seekor lintah pengisap, rentenir yang suka memeras,
dan orang egois yang tidak memiliki sedikit pun sisi kemanusiaan. Ketika saya
datang hanya untuk mencari dan menemukan semua yang berpusat pada diri saya sendiri
itu berarti saya adalah orang egois yang tidak layak dinyatakan orang
berpendidikan. Saya tidak pernah berpikir, hal apa yang bisa saya lakukan untuk
kemaslahatan kota ini, khususnya lingkungan sekitar saya, selama saya mengecap
pendidikan di kota ini. Banyak orang yang tidak mengecap dunia pendidikan,
tetapi berdampak. Mampu memberikan perubahan bagi lingkungannya bahkan negara
ini.
Aku pun
merangkai-rangkai pertanyaan. Apakah gunanya memiliki jenjang pendidikan yang
tinggi, tetapi tidak memiliki manfaat, tidak memiliki kepekaan akan kondisi
sekitar, dan tidak berpikir sedikit pun untuk negara ini. Merenungkan pembicaraan semalam, mengotak-atik
pikiranku. Apakah aku hanya sebagai pengikut selama ini? Tidak pernah berpikir
dan bertindak untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkunganku pada
khususnya dan bagi negara ini pada umumnya.
Menimang-nimang
pembicaraan semalam meneteskan setitik pertanyaan di benak ini. Apakah saya
dapat berdampak dan meninggalkan artefak sisi kemanusian yang humanis? Saya
tidak memikirkan besar-kecilnya, tetapi saya hanya berpikir hal apa yang dapat
saya lakukan.
Keraguan mulai
membidik ketika semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya kecap, tetapi saya
tidak berdamapak dan tidak pernah melakukan sesuatu yang berfaedah untuk negara
ini. Apakah selamanya saya hanya akan mengeksploitasi?
Ini hanya
refleksi dari pertemuan semalam. Pertemuan yang mengajak saya untuk merenungkan
keberadaan saya sebagai makhluk ciptaan-Nya. Negara ini sedang dalam krisis
generasi yang mampu memberikan perubahan dan sumbangsih positif bagi tumbuh
kembangnya peradaban globalisasi. Negara ini sedang kehausan generasi-generasi
yang memiliki jiwa humanis. Semoga saya tidak hanya merenungkan, tetapi
menelurkan tindakan. Semoga!***
Kamar Vera,
Bandung, 6 Agustus 2013
Pukul 21.33 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar